Monday, November 4, 2019

SEKOLAH SMA?

Hallo kawan, jumpa lagi dengan penulis.
Kemaren kita membahas ketidakseimbangan antara jumlah lulusan yang lebih sedikit dibandingkan dengan lapangan pekerjaan. "Sekarang kita bahas apa lagi ya?"

Ops, kecepetan ya. Padahal ini baru aja pembuka dalam menulis . He he he .

Ya, tidak apa-apalah. Baiklah kawan, permasalahan kali ini.
"Apakah pengalaman dalam sekolah di SMA hanya menerima pelajaran yang begitu-begitu saja?"
Semoga ada perubahan dalam kedepannya.

Oke, sekali lagi ditekankan ya kawan. Ini adalah real pendapat dan sudut pandang pribadi. Pertama, kita lihat lulusan-lulusan SMA yang sangat banyak setiap tahunnya yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan nasib mereka nantinya karena kurangnya skill yang dimiliki.

Sekolah Menengah Atas atau SMA dibagi menjadi 2 kejuruan yaitu IPA dan IPS. Ada juga sekolah yang membagi menjadi 3 dengan tambahan Bahasa. Matapelajaran pokok yang diterima meliputi Matematika, Agama, Budi Pekerti, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, sejarah dan ditambah dengan mata pelajaran kejuruan masing-masing. Dilihat dari banyaknya matapelajaran yang harus dipelajari kawan akan menjadikan terlalu fokus pada pelajaran pemahaman teori tersebut. Sehingga kawan akan mengesampingkan skill, minat dan bakat yang ingin didalami.

Sekolah jaman sekarang masuk yang dimulai pukul 7.00 pagi sampai pukul 3.00 sore pada hari senin-jum'at dengan sebutan Fullday. Sedangkan hari sabtu dan minggu libur. Dapat dikatakan setiap senin-jum'at kawan akan sangat sibuk seperti orang bekerja. Karena dapat dihitung 8 jam kawan akan berada di sekolah. Apabila kawan menambahkan dengan les diluar jam tersebut, mungkin waktu mengembangkan skill, minat dan bakat kawan tidak ada. Tetapi pasti akan ada yang bilang "Kenapa tidak pada hari sabtu dan minggu?"

Jawabannya mungkin pada 2 hari tersebut kawan akan lebih menginginkan istirahat dan reflesing ketimbang hal lainnya. Karena situasi yang capek dalam 5 hari ketika menghadapi pelajaran. Mungkin orang-orang dengan kemampuan baik dan semangat tinggi dapat bersaing untuk mendapat nilai yang baik. Tetapi bagaimana dengan seseorang dengan kemanpuan rata-rata dan semangat yang ala kadarnya. Kita mungkin dapat memberikan motivasi tetapi pada akhirnya kembali ke pribadi masing-masing. Selanjutnya, apakah nantinya mereka yang belum dapat bersaing akan ditinggal begitu saja dan akhirnya ketika terjun ke masyarakat mendapatkan kenyataan yang pahit?

Saya berfikir, apakah tidak mungkin mengurangi beban pelajaran yang ada yang nantinya dialihkan kearah ketrampilan? Walaupun hanya beberapa ketrampilan yang bisa di pelajari disekolah yang tidak sepenuhnya seperti disekolah kejuruhan (SMK). Sebagai contoh, keterampilan mengayam, membuat sesutu dari barang bekas, dan lain sebagainya. Bisa juga lebih di kedepankan minat dan bakat yang nantinya bisa dikembangkan. Karena beberapa orang memiliki minat dan bakat kepada sesuatu tetapi tidak dapat mengembangkannya karena kurangnya dukungan. Karena, siapa yang tau adanya minat dan bakat tersebut bisa menjadi mata pencaharian.

Dari sinilah saya berharap pemerintah dapat mengerti kenapa pengangguran dari tahun-ketahun tidak berkurang melainkan bertambah banyak karena sekolah tidak menciptakan wirausahawan baru melainkan pegawai. Sedangkan untuk menjadi pegawai dari beberapa ratus orang yang melamar yang diterima hanya 1 atau 2 orang saja. Lalu dikemanakan sisa orang-orang tersebut. Sekali lagi persaingan dalam kepegawaian dan PNS sangat ketat.

Pada akhir kata. Mohon maaf kawan apabila dalam penulisan menyinggung pihak-pihak yang tidak berkenan dan dalam penulisan masih kurang baik. Sampai jumpa lagi dalam penulisan berikutnya.
See you later...

No comments:

Post a Comment